Activities

( 1149 views )

FAA Tingkatkan Level GMF Menjadi Low Risk

Jakarta – Setelah melakukan audit tahunan selama lima hari pada 20-26 Januari 2016, otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat, FAA meningkatkan kategori PT GMF AeroAsia sebagai perusahaan perawatan pesawat dengan status Low Risk. Kategori ini merupakan level paling tinggi dalam industri penerbangan karena seluruh regulasi dan prosedur telah dilaksanakan secara maksimal sehingga perusahaan dinilai sangat aman. Selama ini, GMF AeroAsia masuk dalam ketegori Medium Risk sehingga improvement terus dilakukan untuk meningkatkan kategori safety and quality ini. “Kategori Low Risk merupakan puncak pencapaian GMF selama memiliki sertifikat approval FAA,” kata Erman Noor Adi selaku VP Quality Assurance & Safety.

Dua auditor FAA yang mengaudit GMF, Jesus R Gonzalez dan Frank Baker menilai improvement GMF dalam mematuhi regulasi dan menerapkan safety sangat bagus. Dalam audit kali ini, auditor menyetujui penambahan 321 part number komponen dan metode NDT Infrared Thermography sehingga GMF AeroAsia memiliki 6 metode NDT yang sudah di-approve oleh FAA. Selain itu, FAA juga telah menyetujui konversi Hangar 3 dari hangar perawatan pesawat narrow body menjadi hangar perawatan pesawat wide body terkait dengan utilisasi Hangar 4 GMF yang dikhususkan untuk perawatan narrow body. Hangar 4 yang merupakan hangar narrow body terbesar di dunia ini juga telah mendapat sertifikasi FAA. Auditor FAA dalam rangkaian audit ini juga memberikan penghargaan berupa FAA Coin kepada sembilan personel GMF terkait dengan kompetensi mereka .

Dalam audit iniFAA juga memberikan apresiasi lain terkait dengan implementasi Safety Management System (SMS) di GMF. Manager FAA, Monico Robles yang mengamati langsung SMS dan berdiskusi dengan Accountable Manager GMF menyatakan implementasi SMS di GMF AeroAsia layak dijadikan percontohan untuk bengkel-bengkel pesawat terbang di Amerika Serikat. “Implementasi SMS di GMF sudah sangat maju,” katanya. Karena itu, Monico Robles memberikan dorongan agar GMF memperbanyak jumlah pesawat N-registered (pesawat terdaftar di Amerika Serikat) yang menjalani perawatan di GMF. Selama ini, GMF memiliki kerjasama perawatan pesawat N-registered antara lain pesawat GECAS. Diharapkan, dengan status Low Risk inipeluang GMF mendapatkan customer N-registered terbuka cukup lebar. Apalagi haisl audit FAA dari tahun ke tahun juga semakin meningkat dan rating FAA yang dimiliki GMF juga cukup banyak.

Selain menjalani audit dari FAA, sepanjang Januari 2016, GMF juga menjalani audit oleh otoritas penerbangan lain yakni EASA, CASA Australia dan MOLIT Korea. Hasil audit CASA Australia cukup signifikan bagi GMF karena ada beberapa penambahan rating yang berhubungan dengan rencana ekspansi GMF meningkatkan penetrasi pasar di Australia. Audit CASA dilakukan oleh Logan Appu dan Ron Salter pada 18-21 Januari 2016 untuk renewal certificate approval CASA yang telah dimiliki oleh GMF. Selain itu, GMF juga mengajukan penambahan capability ATR 72-600 untuk di Line Maintenance Denpasar serta ATR 72-600, A330-200/300, B747-400, B737-600/700/800, dan A320-200 untuk Line Maintenance Cengkareng.

Menurut Erman Noor Adi, penambahan rating capability di Line Maintenance Cengkareng dan Denpasar dalam sertification of approval dari CASA Australia ini terkait dengan kerjasama GMF dengan Virgin Australia dan Qantas. Penambahan ini diharapkan dapat mendorong kerjasama dengan maskapai lain di Australia sehingga penetrasi pasar GMF makin meningkat. “Hasil audit CASA Australia cukup menggembirakan,” katanya. Di sisi lain, CASA Australia bersedia membantu GMF memasuki pasar perawatan pesawat di Australia karena sarana dan fasilitas yang dimiliki dinilai sangat lengkap. “Tanggung jawab kita adalah bagaimana mempertahankan kualitas dan safety,” katanya.

Hasil audit empat otoritas penerbangan sipil ini sangat penting bagi GMF untuk meningkatkan kepercayaan pasar. Apalagi pertumbuhan pasar MRO di Asia Pasifik mencapai 6,1% hingga 10 tahun mendatang. Pada tahun 2015 saja, pendapatan pasar MRO Asia Pasifik mencapai USD 18,3 miliar dan diperkirakan melonjak menjadi USD 34,8 miliar pada taun 2025. Bahkan pada tahun 2018, pasar MRO Asia Pasifik diprediksi menjadi yang terbesar di dunia mengalahkan pasar Amerika Utara. Perubahan trend pasar ini tidak hanya menawarkan peluang besar, namun juga tantangan yang cukup tinggi bagi pelaku industri MRO, investor dan entrepreneur yang tertarik mengerjakan peluang bisnis ini.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Aryo Wijoseno
VP Corporate Secretary,
PT GMF AeroAsia
Mobile : +62818873579
aryo@gmf-aeroasia.co.id